Gilang, Mari Berpolemik!

 Malam telah berganti pagi ketika saya baru saja menyelesaikan tugas Mid Semeter. Karena kantuk belum datang. Maka, saya menunggunya sembari membuka Facebook.

Saat tengah asyik Facebook-an, tautan kawan yang berjudul Menohok, Ini Tulisan Gilang Kazuya Shimura Menanggapi Tulisan Afi Nihaya Faradisa Soal Agama Warisan, mencuri perhatian saya. Selama ini saya memang senang membaca tulisan-tulisan dari Afi. Maka, ketika melihat ada yang mengomentari nukilan Afi, saya jadi tertarik. Tulisan dilawan tulisan. Seru juga. Batin saya.

Namun, betapa kecewa rasanya saat membaca tulisan yang dianggit oleh Gilang yang juga diterbitkan oleh tribunislam.com. Saya sudah tak berselera saat baru membaca paragraf pertama.
Mengapa tulisan seperti itu bisa luput dari editor? Apakah di media tribunislam.com tidak memiliki seorang editor yang mengawasi tiap naskah yang akan terbit?

Iseng. Saya mencari akun penulisnya. Dari nama yang tertera di tulisan, saya menemukan akun Facebook Sang Penulis, Gilang Kazuya Shimura. Hipotesis saya: Gilang adalah seorang intelektual muda. Terlihat dari profilnya. Dia adalah mahasiswa di Technische Universitat Dresden, Jerman. Wow.

Sementara itu, di pihak yang tulisannya coba “digurui” adalah seorang siswi SMA. Yah, dari perspektif saya, jelas bahwa Gilang ingin menggurui Afi yang masih SMA itu perihal agama. Sungguh mulia niatnya. Saat Indonesia kekurangan guru, Gilang muncul untuk menggurui.

Melihat hal itu, saya jadi tak tahan untuk tak angkat bacot. Dengan rendah hati, sebagai sesama mahasiswa, saya mengundang Gilang untuk berpolemik di sini.

Jelas saya tak ingin berdebat soal agama seperti yang dilakukan Gilang pada Afi. Toh sebelumnya, sudah ada Mas Candra Wiguna yang menengahi hal tersebut lewat sebuah tulisan yang cukup bernas. Saya ingin mengajak Gilang untuk lebih ke perspektif akademis: aksara.

Apakah Gilang ini, sebelum kuliah di Jerman, pernah belajar Bahasa Indonesia saat SD, SMP, atau SMA? Kalau iya, mengapa tulisan Anda amburadul seperti itu? Pernah belajar Kaidah Penulisan Ejaan yang Benar? Kalau belum, saya punya sedikit pengetahuan yang akan saya bagi.

Mari kita teliti tulisan Anda di paragraf pertama. Saya hanya ingin bahas paragraf pertama, sebab, di paragraf awal saja Anda sudah banyak kesalahan. Biarlah para sidang pembaca yang lain, menilai paragraf lainnya.

khfdbgkdbg

Paragraf pertama tulisan Gilang

Pada kata pembuka, Anda sudah melakukan kesalahan. Kata ‘Dek’ yang Anda maksudkan adalah adek, bukan kata yang baku. Dan, Anda menuliskan itu berulang-ulang.
Selanjutnya adalah ’emang’. Duh, tahu tidak arti emang? Emang itu artinya paman.
Kemudian ada kata ‘gak’. Yaa Tuhan, orang ini. Gak itu tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mas.
Lalu, ada juga kata ‘milih’. Kamu, Mas. Setelah baca tulisan ini, langsung menuju KBBI daring saja, yah. Periksa sendiri.
Ada juga ‘orang tua’. Tahu tidak, perbedaan orang tua dengan orangtua? Jika yang Anda maksud adalah ayah/ibu, berarti orangtua. Bukan orang tua. Periksa sendiri kalu tidak percaya.
Selain itu, ada juga kata ‘tau’. Tau itu tidak ada di KBBI.
Terakhir ada ‘hadits’. Hadits sudah diserap jadi hadis. Anda menulis ‘hadits nya’. Seharusnya ditulis hadisnya.

Sudah jelas, kan?

Bukan sok menggurui sih. Saya hanya kasihan pada 19.710 akun pengikut Anda di Facebook. Apalagi, Anda nampaknya sering menulis. Maka, mari kita sama-sama cerahkan budaya literasi bangsa ini dengan kaidah penulisan yang benar. Bukankah Anda seorang mahasiswa yang berkuliah di luar negeri. Harusnya Anda yang jadi panutan kami (yang kuliahnya di Indonesia). Atau Anda lebih senang belajar bahasa negara lain tinimbang berpayah-payah belajar bahasa negeri sendiri?

Tak ayal jika saya langsung berpikiran: di mana pun kita kuliah, niat belajar adalah kunci.

Maka, sebelum menggurui orang lain, sebaiknya Anda bercermin terlebih dahulu. Bahwa tulisan Dik Afi jauh lebih baik dari tulisan Anda secara struktur dan kaidah ejaan, itu benar adanya.

Saya sama sekali tak bermaksud menjatuhkan Anda. Tapi, saya hanya mengingatkan untuk memperbaiki tata bahasa Anda. Janganlah terlalu sering mengumbar-umbar kebodohan di depan orang banyak. Begitu kata guru yang mengajarkan saya menulis.

Tulisan ini juga belum tentu lebih baik. Pintu untuk berbagi saya buka selebar-lebarnya. Mari kita saling memperbaiki.

Pesan saya: jika Anda ada rejeki lebih, jangan sungkan untuk membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jika berat, masih ada kok, KBBI dalam jaringan (online).

Salam literasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s