First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Iklan

Jurnalisme Bukan Tempat Sampah

 

 

“Jurnalisme itu harus ‘enak dibaca dan perlu.”—Majalah Tempo

Setelah beberapa waktu lamanya saya tak membaca tulisan dari Daeng Ipul, akhirnya pagi ini saya meng-klik tautan artikelnya yang melintas di linimasa. Ternyata dalam nukilan yang diberi judul Generasi Millenial Ala Tribun Timur, “orang tua” ini menyoroti pemberitaan terhadap seorang anak gadis yang sedang berlibur (berlebaran?).

Sebagai pria yang usianya tak beda jauh dengan gadis—yang ada di dalam berita—tersebut, tentu saya wajib menolong jika ada pria lain (bloger uzur) yang coba menyerangnya. Namun, setelah membaca dengan saksama dan tempo sesingkat-singkatnya, saya menemukan framing tulisan saudara Ipul, coba “menghabisi” orang di balik meja redaksi yang keukeuh menerbitkan berita tak berfaedah (baca: sampah) tersebut. Anda bisa membaca dan menganalisa tulisan Bung Ipul di sini.

Setelah membaca artikel tersebut, saya yang kebetulan berkuliah di bidang jurnalistik, tak tahan untuk tidak angkat bacot. Dan, untuk Dik Dinda Azzahra Salsabila, jika sempat membaca tulisan ini, salam hangat dari saya. Juga pada “karyawati” Tribun Timur yang dituliskan oleh Daeng Ipul, disebut sempat menyerang balik mahasiswa yang mengkritiknya, saya berharap kita bisa dipertemukan dalam sebuah forum untuk berpolemik. Jangan lupa Dik Dinda juga diajak.

Pertama-tama, saya ingin menegaskan bahwa tidak ada tendensi khusus untuk menyerang karyawati tersebut. Saya merasa perlu memberitahukan ini sebab, saya berasal dari kampus milik Fajar Group yang notabene saingan Tribun Timur di industri media. Perlu saya tekankan bahwa, saya juga kerap berkonfrontasi langsung dengan dosen mata kuliah jurnalistik di kampus. Dalam perkara dunia jurnalistik tentunya. Pun Anda perlu tahu, baik dari redaksi atau direksi harian Fajar, banyak yang mengampuh mata kuliah jurnalistik.

Untuk lebih terlihat sopan, saya menulis karyawati tersebut dengan sapaan “Kakak” saja. Saya sendiri tak tahu siapa Kakak dan latar belakangnya. Tapi saya yakin, ilmu jurnalistik yang kakak miliki, jauh lebih baik dari saya.

Jika Kakak berasal dari jurusan yang sama dengan saya, tentu Kakak sudah tahu dan pernah membaca buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang dianggit Bil Kovach dan Tom Rosenstiel. Seiring berkembangnya media daring, Bil Kovach kembali meluncurkan buku Blur yang menggenapkan elemen jurnalistik menjadi 10. Saya haqqul yaqin jika sebagai orang media, Kakak pasti pernah memamah buku-buku tersebut. Ada pun saat ini, mungkin karena dikejar deadline, Kakak jadi lupa/abai pada kaidah jurnalistik yang termaktub dalam buku-buku tersebut. Untuk itu, saya coba mengingatkan kembali, agar Kakak berhenti menyebar berita yang bagi saya, tak lebih dari sampah.

Dalam tulisan Daeng Ipul, saya menarik kesimpulan jika: Kakak orang anti kritik. Padahal, sebagai orang media, Kakak harus tahu bahwa dalam 10 Elemen Jurnalistik, poin nomor 6 dan 10, menekankan kesediaan media untuk dikritik dan memberi hak serta tanggung jawab bagi warga (citizen) perihal berita. Alangkah tidak elok jika warga yang mengkritik, justru Kakak serang dengan tudingan bahwa si pengkritik itu tak memiliki dan/atau tidak pernah ikut pelatihan jurnalistik.

Pertanyaan saya: Apakah dengan sikap seperti itu, Kakak sudah memiliki kemampuan jurnalistik yang mumpuni? Jika memang Kakak menganggap warga tersebut tak memiliki pemahaman tentang jurnalistik, setidaknya Kakak jangan arogan. Ingat semangat pendidikan! Mendidik adalah tanggung jawab kaum terdidik. Jangan sampai karena sikap Kakak, Ki Hajar Dewantara bisa menangis dari balik kuburnya.

image

Capture dari tulisan Daeng Ipul

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali!”–Tan Malaka

***

Saya sepenuhnya tak menyalahkan sikap Kakak. Arogansi yang Kakak tampilkan, sudah bisa dijadikan tolak ukur dunia jurnalistik kontemporer Indonesia. Meski tak semua media seperti itu. Hal yang harus kita ketahui bahwa idealisme seorang jurnalis, kerap dikolonisasi oleh pemilik modal. Mungkin Kakak tak ingin mengedarkan berita seperti itu, tapi kebijakan dewan direksi yang lebih mementingkan kuantitas tinimbang kualitas, adalah faktor utama gagalnya jurnalisme Indonesia saat ini mencerahkan masyarakat.

Bicara soal jurnalisme yang mencerahkan, saya jadi ingat Maman Suherman. Dalam diskusi di Kedai Pojok bersama mantan wartawan Kompas tersebut, ia menitikberatkan jurnalisme pada dua hal: Enrichment & Enlightenment. “Hal yang penting bagi dunia jurnalisme adalah bagaimana sebuah berita, mampu memperkaya dan mencerahkan pembacanya” Ujar pria berkepala plontos itu.

Pertanyaannya: Apakah dengan berita yang Kakak sebarkan (yang disinggung Daeng Ipul) itu, sudah memperkaya dan mencerahkan pembacanya? Biarlah sidang pembaca tulisan ini yang menilai.

Kembali soal kebobrokan ruang redaksi. Media-media saat ini memang sudah jauh meninggalkan marwah dari jurnalisme. Demi kepentingan iklan, idealisme pun tergadai. Seakan berlomba untuk terus menyebar berita “sampah”, linimasa pun terus diberondong artikel. Tujuannya jelas, hanya mengejar popularitas yang implementasinya untuk meraup iklan.

Dalam sebuah wawancara dengan Remotivi, Zen Rahmat Sugito yang juga chief editor Tirto.id angkat suara perihal kuantitas dan kualitas berita. Menurutnya, untuk menjaga kualitas dan nilai berita, mereka—orang di balik meja redaksi—secara utuh mengimplementasikan standar dan kaidah jurnalistik. “Tirto.id jelas tak ingin turut serta dalam persaingan kuantitas, kami lebih menekankan kualitas. Maka dari itu, kami lebih banyak menyiarkan laporan panjang untuk sebuah berita.” Pungkas pria yang juga pendiri Pandit Football tersebut.

Jika dewan direksi terus mengejar keuntungan tanpa memikirkan nilai berita, apa langkah yang bisa diambil oleh para jurnalis yang masih “sadar”?
Pertanyaan seperti ini, masih kerap menghantui kami sebagai mahasiswa jurnalistik. Apakah teori yang dipelajari, serta idealisme yang terbentuk di kampus, akan raib ketika kami telah masuk di media? Maybe yes, maybe No. Namun, lahirnya media seperti Tirto.id yang mengejawantahkan seluruh teori pers yang ada di kampus, membawa angin segar pada kami.

Bisa jadi, keresahan kami yang ada di kampus, juga dirasakan oleh si Kakak. Tetapi apa daya, namanya menyambung hidup. Mau tidak mau, ia harus tunduk pada atasan.

Apakah jurnalis (bawahan) tak boleh mengkritik atasan (redaktur/direksi)?

Jika konteksnya seperti itu dan bila kita bicara soal kepentingan masyarakat sesuai kaidah jurnalistik, tentu saja boleh. Toh memperbaiki nilai media/perusahaan tempat kita bernaung adalah sah-sah saja. Bahkan menurut Bob Woodward dari The Washington Post, menyebutkan “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya”.

Dari tulisan seorang pakar di bidang jurnalistik, Andreas Harsono bercerita perihal kerancuan media di Amerika. Pada tahun 1980-an, banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan fakta bahwa separuh dari wartawan Amerika, menghabiskan sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Hal tersebut juga mungkin saat ini terjadi di Indonesia. Termasuk di tempat Kakak bekerja. Bagaimana keuntungan perusahaan jadi nomor satu ketimbang kepentingan masyarakat. Tentu sebuah antitesis dari etika jurnalistik yang mewajibkan kepentingan masyarakat untuk diutamakan.
***

Sebagai penutup, saya berharap jika ada kesempatan, Kakak sudi untuk mengagendakan forum diskusi bersama para pembaca Tribun Timur. Jika memang Tribun Timur adalah Spirit Baru Makassar, mengapa tidak memperbanyak agenda pertemuan dengan masyarakat Makassar.

Pada akhirnya, para pekerja media harus sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab serta etika sosial untuk masyarakat.

Soal generasi millenial, saya sebenarnya tak tahu banyak asal-usulnya. Namun, jika konteks millenial adalah kaum muda, biarlah pembaca sendiri yang menilai bagaimana tingkah dari generasi millenial saat ini. Satu yang saya ketahui: Jurnalisme adalah pilar kecerdasan bangsa. Mari mencerdaskan generasi millenial Indonesia.

 

UKM Pers Unifa Memang Kampungan!

 

C66X8TmU4AEbbiS.jpg small.jpg

Kredit: Google

Sebuah lakon menggelikan, kembali ditunjukkan oleh situs website kertasonline.com. Media daring milik UKM Pers Unifa ini, memperlihatkan bahwa mereka adalah media kampungan. Tidak modern. Bagaimana tidak, lembaga pers kampus yang mendewakan ideologi perlawanan ini, memuat berita tentang “hilangnya” perpustakaan kampus pasca relokasi.

Oh, iya. Khusus perpustakaan, tidak masuk dalam kategori relokasi, karena secara arti: relokasi adalah pemindahan tempat. Sementara perpustakaan kampus tidak dipindahkan tapi “dihilangkan”.

Kembali ke kertasonline.com. Berita tentang perpustakaan yang mereka muat, benar-benar menjadi sebuah ejawantah dari kata:katrok. Saat kampus tempat mereka bernaung mendengungkan jargon Kampus Entrepreneur, mereka malah semakin puritan. Atau mungkin para anggota dari UKM Pers ini tidak sadar kalau mereka berada di lingkungan kampus selebriti? Kampus kita ini adalah kampus modern.

Maka dari itu, perpustakaan itu tidak penting. Bukannya sekarang sudah era digital? Jadi untuk mencari data maupun tugas, tinggal buka google dan copas. Praktis, bukan?

Lalu, kalau kita sudah berada di zaman serba praktis, kenapa UKM Pers ini malah sibuk mencari perpustakaan? Ah, dasar UKM ketinggalan zaman.

Woi, UKM Pers! Apa kalian tidak mendengar penjelasan pihak birokrasi kampus yang menyarankan untuk buka-buka google saja? Bahkan lebih jelasnya lagi, kalau mau membaca atau mencari referensi, sebaiknya ke perpustakaan lain di luar kampus.

Tentu saja ini adalah sebuah argumen yang menandakan bahwa kalian berada di kampus yang modern. Yaa… Tuhan, betapa beruntungnya saya bisa berkuliah di tempat ini.

Saya juga terkadang heran pada anak-anak UKM Pers yang sangat teguh memegang idealismenya. Apakah mereka tidak pernah bersyukur bisa dibesarkan di lingkungan kampus yang serba hedon ini? Bukankah lebih nyaman berada di kampus yang lebih sering mengundang artis ternama daripada pemateri seminar kenamaan? Sudah untung diberikan hiburan konser musik yang nyaris ada setiap bulan, tinmbang kampus lain yang bisanya cuma mengadakan seminar kebangsaan dan memikirkan solusi untuk perkembangan negara. Huh, dasar UKM tidak tahu diuntung.

Hal yang lebih lucu lagi saat UKM Pers sibuk sendiri mencari perpustakaan, di mana mahasiswa lainnya sedang berjuang menuntut tentang relokasi sekretariat. Mungkin anak-anak UKM Pers ini tak tahu kalau sekretariat untuk lembaga-lembaga kemahasiswaan itu jauh lebih penting tinimbang perpustakaan.

Lalu, untuk apa mereka berisik saat mahasiswa lain juga diam-diam saja melihat perpustakaan kampus yang “raib” itu? Sudah ada google, woi. Dasar UKM lawak.

Melihat hal ini, saya jadi semakin yakin jika mahasiswa yang ada di balik redaksi UKM Pers ini merupakan mahasiswa cupu. Ketika pihak kampus lebih mendahulukan minimarket kampus perihal relokasi, mereka justru membodohi diri dengan meperjuangkan budaya literasi.

Bukankah secara materi, minimarket lebih menguntungkan daripada perpustakaan? Ingat, kita ini berada di kampus entrepreneur. Literasi bukan hal yang penting, sebab dalam dunia entrepreneur itu, modal dan pekerjaan adalah kunci. Kita tak butuh ilmu. Kita hanya butuh ijazah dan pekerjaan.

Semoga setelah membaca tulisan singkat ini, para anggota UKM Pers ini bisa segera sadar jika mereka hidup di lingkungan yang modern. Lihatlah kampus lain yang sibuk memperbesar dan menambah koleksi buku-buku perpustakaannya. Itu adalah contoh kampus yang tidak kekinian.

Mengapa mesti sibuk-sibuk membuka buku, padahal menurut pihak birokrasi kampus kita ini, untuk cari referensi mending buka google saja. Maka dari itu, mari kita sama-sama berbangga karena terdidik di kampus yang tidak mendukung budaya literasi.

Ayo ke Unifa!

___________________________________

Tulisan ini pertama dimuat oleh kertasonline.com

Kami Bukan Sekumpulan Monyet!

bung-karno-baca-buku.jpg

(Kredit: Tipsiana.com)

 

 

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” –Milan Kundera

 

Akhir-akhir ini baik televisi maupun di media sosial, kita sering disuguhkan lakon yang tidak manusiawi. Tuding-menuding, caci-mencaci, hingga adu fisik, telah jadi santapan sehari-hari. Ironi memang. Bangsa besar yang katanya memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, serta menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, justru tumbuh menjadi bangsa yang saling memamah antara para penduduknya.

Apa yang menjadi cita-cita para founding father Indonesia, yang telah mengorbankan segenap jiwa dan raganya agar penduduk bangsa ini saling menjaga serta bersatu dalam keragaman demi kemajuan Tanah Air, malah semakin digiring keluar jalur oleh para penerusnya. Atas nama kebenaran, kebencian ditebar. Bahkan yang lebih gila lagi, Pancasila pun dinistakan

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana bisa negara ini berjalan jauh dari koridor yang diharapkan oleh para pendirinya? Jawabannya adalah: kita lupa sejarah.

Persoalan lupa-melupakan, sudah jadi masalah umum bangsa kita. Indonesia terlalu mudah melupakan. Padahal dengan mengingat masa yang telah lalu (sejarah), kita jadi dapat mempersiapkan diri agar bisa lebih baik untuk menyongsong masa yang akan datang. Tetapi, kita memang tak pernah belajar bahkan terkesan mengubur segala cerita masa lalu. Parahnya lagi, kebanyakan dari kita menolak untuk mencari tahu dan seakan enggan untuk membaca buku sejarah.

Alih-alih baca buku sejarah, baca koran pun seakan jadi momok bagi penduduk bangsa ini. Budaya literasi kita saat ini memang teramat miris. Buku yang notabene adalah sumber peradaban, justru menjadi benda asing dalam keseharian orang Indonesia. Yah, bangsa kita yang tercinta ini, kini berada di titik nadir peradaban.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2012, minat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Itu artinya, dari 1000 orang warga Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Lalu tiga tahun kemudian atau pada 2015, UNESCO kembali menginisiasi sebuah penelitian untuk mengukur tingkat kemampuan membaca pada anak-anak. Bocah di Eropa memiliki tingkat kebiasaan membaca sebanyak 25 buku setahun. Sementara di Jepang dan Singapura, anak-anak di kedua negara Asia tersebut memiliki kebiasaan membaca sebanyak 15—17 buku tiap tahun. Bagaimana dengan Indonesia? Anak-anak di Indonesia rata-rata memiliki kebiasaan membaca sebanyak 0 (nol) buku dalam setahun. Itu artinya anak-anak Indonesia rata-rata tidak menghabiskan  satu pun buku dalam setahun. Memilukan.

Rupanya bangsa kita tidak hanya sudah terlalu lama memunggungi lautan dan daratan. Buku ternyata sudah menjadi sesuatu yang juga ikut dipunggungi oleh bangsa ini. Sesuatu yang menurut sastrawan Taufiq Ismail adalah sebuah tragedi.

Melihat realita yang ada, sulit rasanya membayangkan kemajuan bangsa ini dalam beberapa tahun yang akan datang. Jika sedikit menilik ke belakang, zaman pra kemerdekaan menjadi era di mana para pejuang baik golongan muda maupun tua, sibuk bergelut dengan buku dan diskusi. Tak ayal jika mereka sudah mampu berimajinasi untuk memikirkan kerangka serta konsep bangsa ini, jauh sebelum merdeka. Hal yang tentu bertentangan dengan era saat ini. Jika pada masa itu kaum pemuda-pemudi sibuk beradu pendapat tentang revolusi, maka saat ini pemuda-pemudi sibuk beradu jumlah  followers di Instagram.

Masalah membaca memang kerap ditekankan oleh para pendiri bangsa. Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno pernah menyatakan: jika kalian meninggalkan sejarah dan kalian tidak membaca, maka bersiaplah kalian untuk bernasib seperti monyet dalam kegelapan.

Apa yang dikatakan oleh presiden pertama tersebut, adalah refleksi di masa kolonial. Ketika itu Belanda beranggapan bahwa bangsa kita hanyalah sekumpulan monyet yang tidak memiliki peradaban. Hal itu juga dijelaskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Bumi Manusia. Minke yang merupakan tokoh utama di novel tersebut, dinamai seperti itu oleh gurunya yang merupakan orang Belanda. Nama Minke adalah plesetan dari monkey.

Pemerintah seharusnya ambil peran dalam hal ini. Namun sayangnya, kita belum melihat adanya iktikad baik untuk menanggulangi masalah yang sangat serius ini. Mari melihat kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah. Sudah sejauh mana pemerintah menyediakan buku-buku berkualitas? Jangankan di sekolah, di perpustakaan kampus pun mengalami hal yang sama. Deretan rak buku hanya diisi buku-buku yang sama sekali tidak menstimulasi mahasiswa untuk berpikir lebih baik.

 

Negara, Berhentilah Membakar Buku

57340ddb187bb-penyitaan-buku-berbau-komunisme-oleh-tni-di-jawa-tengah-rabu-11-5-2016_663_382.jpg

Razia buku yang dilakukan oleh TNI. (kredit: viva.co.id)

 

Ketika anak bangsa yang kadung miskin imajinasi serta kreativitas untuk membawa bangsa ke arah lebih baik, akhirnya perlahan sadar dan mencoba bangkit. Namun, ketika sedikit demi sedikit mereka mencoba mengembalikan identitas bangsa, pemerintah hadir dengan memberangus buku (kiri). Tak hanya itu, pelarangan diskusi-diskusi juga masih kerap ditemukan. Padahal buku dan diskusi adalah wadah untuk berdialektika serta mencari solusi agar bangsa ini bisa lebih baik.

Maraknya razia buku-buku kiri serta pembubaran diskusi-diskusi, tentu menjadi preseden buruk ketika kita telah tiba di era informasi terbuka. Apa yang ditakutkan oleh pemerintah adalah sebuah kesesatan berpikir. Dengan legitimasi komunis, buku serta diskusi yang beraroma kiri dilarang.

Saya sampai saat ini tak yakin bahwa mereka yang melarang peredaran buku serta diskusi bernuansa kiri, mengerti apa itu kiri atau komunis. Sudah sejauh mana Anda yang merasa komunisme dan sosialisme itu tak baik, membaca atau menelaah paham tersebut. Sudah sedalam apa Anda memahami pemikiran Karl Marx, Friedrich Engels, atau Vladimir Lenin yang jadi patron paham tersebut?

Bagaimana mungkin anak bangsa ini tahu baik atau tidaknya ideologi komunis maupun sosialis jika ada larangan untuk mempelajarinya?  Atau mungkin pemerintah menganggap generasi saat ini terlalu bodoh dan serta-merta akan jadi komunis hanya dengan membaca buku kiri?

Dari hemat saya sendiri, pemerintah atau orang-orang yang tak suka buku kiri bukannya takut akan kebangkitan gerakan komunis maupun sosialis. Mereka hanya tak menginginkan anak bangsa ini memiliki jiwa kritis, dan sering bertanya. Pemerintah seakan alergi untuk dikritisi atau melihat anak bangsa jadi banyak tanya. Hal ini tentu mengingatkan kita kembali pada zaman orde baru yang di mana pemerintah menginginkan warganya menjadi monyet yang penurut. Benar kata Pram, bahwa orde baru itu tak pernah hilang dan akan terus tumbuh menjadi orde baru yang baru, sebab orde baru sendiri adalah sebuah pikiran.

Seandainya saja pemerintah bisa lebih bijak dan memahami sejarah secara utuh, sesungguhnya gerakan kebangkitan para pendahulu kita tumbuh karena bacaan kiri. Mulai dari Cokroaminoto, Hatta, hingga Sukarno pernah mempelajari tentang komunisme dan sosialisme saat memperjuangkan kemerdekaan.

Maka dari itu sebaiknya pemerintah memberikan kebebasan belajar dan berpikir untuk para warganya. Bukankah kita merindukan kemajuan? Bagaimana mungkin kita bisa maju jika nalar berpikir kritis dan berpendapat terus-terusan dibungkam?

Dan untuk para generasi muda, marilah kita melawan stigma penjajah yang mengatakan kita hanyalah monyet yang tak memiliki peradaban. Dengan membaca maka pengetahuan menjadi luas serta analisis semakin berkembang. Pun dengan membaca, kita bisa terus menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa ini. Sebab buku adalah kunci peradaban.

Salam literasi.

_________________________________________

Tulisan ini juga dimuat oleh: Kertasonline.com

 

Tarawih bersama Anuar (1)

berangkat mengaji banyumas Desa Kebutuh.jpg

Kredit: google

 

Tanpa terasa bulan Ramadan di tahun 2017 ini, sudah memasuki hari kelima. Soal puasa, hingga hari ini saya melaksanakan dengan lancar. Tapi berbeda dengan puasa, salat tarawih saya masih bolong-bolong. Baru terhitung dua hari belakangan ini saya menjalankannya.

Saya benar-benar merindukan masa kecil dulu. Masa di mana bulan Ramadan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu. Buku Amaliyah Ramadan yang dibagikan oleh guru sebelum libur Ramadan, menjadi saksi kebohongan masa kecil. Buku yang seharusnya diparaf oleh ustaz yang membawakan ceramah tarawih, justru saya paraf sendiri. Saya memang setiap hari ke masjid. Tapi, tidak untuk tarawih atau mendengarkan ceramah, melainkan bermain petasan. Jadilah buku yang harusnya jadi catatan ibadah selama Ramadan, justru menjadi catatan kenakalan. Kenakalan masa kecil yang (mungkin) akan terus terkenang sepanjang hayat.

Berselang beberapa tahun kemudian, tepatnya Ramadan kali ini, saya sungguh merindukan suasana tarawih di masjid. Maka di hari kedua puasa, saya mengajak kawan akrab saya, Anuar, untuk pergi tarawih bersama. Ajakan saya mendapat respon positif. Beliau juga ternyata merasakan hal yang sama: merindukan suasana tarawih. Bermodal baju koko pinjaman dari teman, dia pun ikut salat tarawih bersama saya.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya membawa Anuar untuk tarawih di masjid yang ada tepat di depan patung ayam, Daya. Memang selepas tarawih nanti, saya akan mengajak Anuar untuk sahur di rumah saya yang jaraknya tak jauh dari masjid.

Tiba di masjid, kami langsung berwudu dan mendirikan salat sunnah. Saya selesai lebih awal dari Anuar. Saya melihat jelas begitu khusyuk kawan saya ini merapalkan doa setelah salat sunnah. Jelas ada kerinduan yang tergambar dari bola matanya. Dia seakan menginsyafi kelakuannya selama ini. Seandainya saja di masjid belum banyak jamaah lain yang datang, barangkali kawan saya ini akan meneteskan air mata meratapi hari-harinya yang banyak dihabiskan di meja judi. Subhanallah.

Setelah salat Isya, ustaz yang akan membawakan ceramah langsung naik ke atas mimbar. Saya dan Anuar yang berada di saf kedua, menyimak dengan saksama. Di awal ceramahnya, ustaz yang dari gelarnya menandakan bahwa dia lulusan dari Kairo, Mesir, menyampaikan ceramahnya dengan khidmat. Lalu sampailah di pertengahan, ketika sang ustaz menyinggung perihal maraknya mahasiswa yang turun ke jalan. “Katanya mahasiswa ingin memperjuangkan rakyat, tapi kenapa jalanan yang ditutup? bukankah itu sama dengan menyengsarakan rakyat?” sang ustaz berujar. “Baru rata-rata itu mahasiswa yang suka demo, yang rambutnya gondrong-gondrong. Itu mahasiswa atau preman? tidak adakah uangnya pergi cukur itu?” lanjutnya lagi. Saya melihat Anuar sedikit gelisah. Bukan tanpa sebab, dari semua ciri yang digambarkan oleh penceramah, Anuar memiliki semuanya. Gondrong, iyah. Sering demo juga iyah.

Dari raut wajahnya, Anuar mulai tidak respek pada sang ustaz. Hingga di pengujung ceramahnya, dia menyebutkan bahwa: haram hukumnya penjudi ada di surga. Sebuah smash telak untuk sahabat yang duduk di samping saya ini. Anuar nampak begitu gregetan. Selama ini memang Anuar menjalankan Islam secara liberal. Dia memang memaknai Islam secara esensial. Hal yang didapatkannya setelah keluar masuk diskusi-diskusi yang diadakan oleh organisasi mahasiswa Islam tempatnya berproses selama ini. Anuar memang tidak senang pada ustaz maupun ulama yang mengumbar-umbar halal dan haram.

Selepas ceramah, salat tarawih pun didirikan. Anuar mengambil posisi tempat di belakang ustaz yang ceramah tadi. Saya berjarak empat orang dari samping Anuar. Setelah sampai pada rakaat kelima, penceramah tadi ngacir keluar masjid begitu tahiyat akhir yang diakhiri salam, usai dilakukan. Anuar rupanya ikut keluar dari masjid. Firasat saya tak enak. Saya juga ikut keluar.

Sang penceramah terlihat mempercepat langkahnya menuju kamar kecil yang ada di samping masjid. Sepertinya ada yang bermasalah pada perutnya dan butuh dikeluarkan. Sementara itu, Anuar justru berjalan ke arah yang berlawanan. Dia mengarah ke pasar yang ada di depan masjid. Saya sendiri selonjoran di taman bunga samping masjid sambil membakar rokok.

Anuar tak butuh waktu lama untuk kembali. Jarak pasar memang hanya sepelemparan batu dari masjid. Sementara si penceramah tadi masih bersemayam di dalam kamar mandi. Benar dugaanku. Sepertinya memang dia sedang buang hajat.

“Kenapa pergiko beli rokok, adaji rokok sini.” Anuar tak menggubris ucapan saya. Mungkin dia juga hendak buang air besar. Selama ini memang Anuar memiliki kebiasaan yang unik: buang air besar sambil merokok.

Duarrrr…

Duarrrrrrrrrr…

Secara beruntutan, terdengar ledakan dari arah kamar kecil. Jarak saya hanya beberapa meter dari pusat ledakan. Pandangan saya terpaku pada bilik kecil itu. Saya sama sekali sudah tak berpikir apa-apa lagi. Tatapan saya dibuyarkan oleh seorang lelaki gondrong yang berlari keluar dari dalam wc sembari melipat sarungnya. Anuar dengan tergopoh-gopoh bak seseorang yang berhasil selamat dari ledakan bom, langsung berdiri di hadapan saya.

“Ambilki motormu!” Anuar berujar sambil mengatur nafasnya.

“Kenapako?”

“Jangan mako banyak tanya, ambilmi cepat motormu.”

Sebagai mahasiswa jurnalistik, jiwa saya sudah terkontaminasi untuk mewawancarai Anuar. Tapi, tidak! Saya pikir ini bukan saat yang tepat. Motor kami meninggalkan area masjid. Juga lokasi ledakan tentunya.

Sambil gemetaran, saya memacu motor dengan kecepatan maksimal. Sekitar 200 meter meninggalkan pusat ledakan (masjid), saya pun menghentikan motor di tepi jalan. Saya sudah tak kuat menahan rasa penasaran. Tangan saya juga terus bergetar selama berkendara.

“Kenapako?”

Nafas Anuar masih tersengal-sengal. Pertanyaanku tak digubris. Dia coba mengatur nafas yang seperti ingin lari meninggalkan raganya.

“Tidak tahu apa masalahku sama itu ustaz.”

“Maksudnya?”

“Masa tidak kau dengar tadi waktu dia ceramah?”

“Bah, saya dengarji.”

“Kau dengarji toh? Tidak tahu kenapa saya terus nasalahkan tadi waktunya ceramah.”

“Asu!” Saya membatin. “Janganko terlalu ge-er jadi cowok, bos!”

“Ahh… Tidak mentong. Saya memang mau nasinggung itu ustaz.”

Saya membakar rokok dan duduk di pinggir jalan. Anuar juga membakar rokok dan duduk di atas motor.

“Kenapakah itu ustaz masih suka sebut-sebut orang yang banyak dosa, tidak bisa masuk surga?” Ujar Anuar.

“Sejak kapan itu ustaz jadi asisten pribadinya tuhan, dan bisa tahu orang masuk neraka atau surga?”

“Tapi kan ada memang di kitab suci yang menjelaskan tentang itu.” Jawab saya.

“Iyo memang ada. Tapi kalau ada, berarti seenaknya mi mau tetapkan orang lain masuk surga atau neraka?” Nada suara Anuar meninggi.

“Kau tahu, hal yang seperti ini bikin malaska ke masjid. Kayak dijatuhkan ji mentalku kasihan.” Saya hanya terdiam.

“Memang di kitab suci ada surga dan neraka. Tapi tidak mesti manusia yang memastikan seseorang masuk surga atau neraka, karna hal yang seperti itu adalah hak prerogatifnya Tuhan. Dan sampai kapan pun, manusia tidak layak untuk memastikan surga atau neraka manusia lainnya. Karena mereka sama-sama manusia biasa.” Anuar terus bermonolog.

Saya terkesima melihat luasnya cara berpikir kawan saya ini. Dia memang seorang liberal sejati. Buku-buku dari Gus Dur, habis dibacanya. Video-video ceramah Cak Nun di Youtube, juga tak pernah ditinggalkannya. Menurutnya, sebaik-baiknya agama adalah yang mengajak kita meninggikan kemanusiaan. Sebab percuma kita taat beribadah jika kita juga masih taat mencuri hak orang lain. Saya salut pada sahabat saya ini. Dia telah sampai di level makrifat. Dia seorang sufi. Dalam tenang dan sunyi, dia selalu memuja kebesaran Tuhan. Subhanallah.

“Tapi kenapa tadi ada suara meletus di toilet-nya masjid?” Anuar tertawa kecil mendengar pertanyaan saya.

“Tadi itu, saya tahu memang kalo sakit perutki ini ustaz. Dari awal salat kayak gelisah teruski. Pas saya lihat keluarki, yakinka kalo dia akan pergi boker. Makanya saya ikuti.”

“Ih, kau ikuti kah? perasaan tidak kau ikuti deh. Pergi jako saya lihat beli rokok di depan masjid.”

Anuar tertawa begitu takzim. Seakan dia baru saja pulang berjihad dan mengalahkan semua lawannya.

“Bukan pergi beli rokok itu, kawan.”

“Darimana jako pade?”

“Kau dengar tadi itu suara letusan?”

“Iyo”

“Tadi itu saya masuk ke wc. Begitu saya dapat kamar yang na tempati itu penceramah boker, langsung saya bakar 2 biji petasan, baru saya lempar masuk.”

“Tai, kau!”

Ternyata Anuar ke depan masjid bukan untuk beli rokok, melainkan beli petasan. Begitulah hari pertama tarawih saya bersama Anuar tahun ini.

 

(Bersambung)

 

 

 

Peran Wasit, untuk Sepakbola yang Lebih Baik

 

 

aid39982-v4-728px-Understand-Soccer-Referee-Signals-Step-2-Version-2.jpg

Kredit: wikihow.com

 

Terobosan yang dilakukan oleh PSSI perihal regulasi untuk mewajibkan klub Liga 1 memainkan 3 pemain U-23, minimal 45 menit tiap pertandingan, mulai menunjukkan hal yang positif. Beberapa bakat muda mulai bermunculan.

Meski sempat menuai pro-kontra, toh, pada akhirnya klub harus mematuhi regulasi tersebut. Jika di awal kompetisi klub-klub terkesan memainkan pemain U-23 untuk sekadar mengikuti aturan, perlahan namun pasti, pemain-pemain muda justru mulai unjuk gigih dan menjadi andalan di klub masing-masing.

Nama-nama seperti Evan Dimas Darmono, Febri Hariyadi, maupun Hansamu Yama Pranata yang sejak musim sebelumnya dianggap sebagai bintang muda berbakat, kini mulai mendapat banyak pesaing. Berkat regulasi yang mengharuskan klub memainkan pemain U-23, penikmat sepakbola Tanah Air saat ini mulai dimanjakan oleh permainan ciamik dari bintang-bintang muda baru semisal: Billy Keraf, Dedik Setiawan, Rezaldi Hehanusa, Henhen Herdiana, Prisca Womsiwor, Fahmi Al Ayyubi, M. Arfan, hingga Reva Adi Utama. Tak heran jika para pelatih sudah tidak segan memberi menit bermain yang lebih (PSSI mewajibkan pemain U-23 dimainkan minimal 45 menit) untuk pemain mudanya karena performa apiknya.

Berikut 10 besar pemain U-23 yang mendapat menit bermain terbanyak (Data: topskor.id).

  1. Rudolf Yanto Basna (Sriwijaya FC), 540 menit, 6 pertandingan.
  2. Rezaldi Hehanusa (Persija Jakarta), 539 menit, 6 pertandingan.
  3. Zaenuri (Perseru Serui), 532 menit, 6 pertandingan.
  4. Terens Puhiri (Pusamania Borneo), 494 menit, 6 pertandingan.
  5. Reva Adi Utama (PSM Makassar), 476 menit, 6 pertandingan.
  6. Septian David Maulana (Mitra Kukar), 450 menit, 5 pertandingan.
  7. Ardhi Yuniar (Persiba Balikpapan), 450 menit, 5 pertandingan.
  8. Yabes Roni (Bali United), 437 menit, 5 pertandingan.
  9. Guntur Cahyo (PS. TNI), 413 menit, 6 pertandingan
  10. Henhen Herdiana (Persib Bandung), 390 menit, 6 pertandingan.

Tentu hal ini menjadi kabar baik bagi masa depan Timnas Indonesia, sebab, stok pemain muda kian bertambah. Apa yang dicita-citakan oleh PSSI saat mengumumkan regulasi tentang pemain U-23, memang telah menampakkan hasil. Namun, ada hal yang harus menjadi perhatian khusus bagi PSSI maupun penyelenggara pertandingan: Kinerja wasit.

Wasit berperan penting untuk perkembangan pemain muda

Meski regulasi telah mewajibkan tiap klub menurunkan pemain U-23, tetapi, hal tersebut sama sekali bukan jaminan bagi para pemain muda untuk bisa berleha-leha. Toh, mereka juga harus bersaing dengan sesama pemain muda lainnya untuk mendapat kepercayaan bermain. Kita juga tak boleh menutup mata pada realita masih banyak pemain senior yang kerap mencibir para pemain muda yang diuntungkan oleh regulasi.

Setelah “berdarah-darah” di latihan untuk mendapatkan jatah bermain, para pemain muda tersebut harus menerima kenyataan jika wasit di Indonesia masih kerap “masuk angin”. Bukankah banyaknya wasit yang kontroversial juga dapat memengaruhi mental pemain muda ini?

Kita bisa melihat dalam beberapa kejadian Febri Hariyadi harus mendapatkan perlakuan keras menjurus kasar yang tak jarang dianggap hal yang biasa oleh wasit. Tak heran jika kita bisa melihat Febri melakukan respon yang agresif. Beruntung sejauh ini Febri memiliki mental yang kuat. Lalu, bagaimana dengan pemain muda lainnya? Bisa saja pemain muda lain yang mengalami kejadian sama dengan Febri, tak memiliki mental sekuat pemain Persib Bandung itu, dan berujung si pemain jadi penakut lalu tak lagi mendapat kepercayaan bermain.

Wasit sejatinya memiliki peran besar untuk membentuk karakter para pemain muda. Bukannya mengajarkan untuk jadi pemain yang cengeng, tetapi sebagai aset bangsa, pemain-pemain tersebut butuh dilindungi baik dari fisik maupun psikis. Kita semua tentu tak berharap para pemain muda Indonesia tumbuh jadi pemain yang tukang protes wasit serta senang melanggar aturan.

Hingga memasuki pekan ke-6, PSSI telah menjatuhkan sanksi untuk 18 wasit dan asisten wasit yang memimpin Liga 1 maupun Liga 2. Catatan tersebut sangat disayangkan mengingat Liga Indonesia baru bergulir selama enam pekan. Semangat untuk menghasilkan bibit pesepakbola handal baru yang dicanangkan PSSI lewat regulasi kewajiban memainkan pemain U-23, sungguh tak sejalan dengan performa para pengadil di lapangan. Para wasit tak sadar bahwa mereka adalah salah satu unsur penting demi terciptanya wajah sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Peran Komisi Disiplin (Komdis) PSSI juga amat diharapkan mampu memberikan edukasi bagi para pemain muda. Selama ini Komdis terlalu terpaku pada sanksi materil yang membuat stigma penikmat bola Tanah Air: Komdis tak ubahnya tukang palak. Tak ayal jika kelak, kasus para pemain muda seperti yang dilakukan Abduh Lestaluhu, Manahati Lestusen, dan M. Zaenuri akan terus berlanjut dan menimpa pemain muda lainnya. Sebab selama ini, denda yang dijatuhkan pada pemain (biasanya) dibayar oleh klub.

PSSI maupun Komdis harus mulai memikirkan sanksi lain yang lebih memberi efek jera. Pemain sebesar Eric Cantona pernah mendapat hukuman 8 bulan larangan bermain, serta diwajibkan melakukan kerja sosial selama masa hukumannya akibat menendang suporter lawan. Hukuman seperti ini pun patut dipertimbangkan oleh PSSI tinimbang terus mengumbar sanksi berupa uang. Selain itu, kita juga berharap para pengadil di lapangan mampu menunjukkan itikad baik untuk sama-sama memajukan sepakbola Indonesia dengan cara menjunjung tinggi rule of the game yang sudah diatur. Sebab, wasit merupakan jembatan terciptanya kualitas liga dan pemain untuk sebuah negara.

 

 

 


Tulisan ini juga dimuat oleh: football-tribe.com

Bulan yang Berkah untuk Anuar

JACK.jpg

Gambar ini hanya ilustrasi

Awal puasa Ramadan tahun ini jatuh pada tanggal 27 Mei 2017. Baik NU maupun Muhammadiyah menetapkan hari dan tanggal yang sama. Ciye… kompak. Semoga kemesraan ini jangan cepat berlalu, yah! Tapi, tidak. Saya tidak ingin membahas kedua kelompok Islam terbesar di Indonesia itu. Saya ingin menuliskan pengalaman menjalani Ramadan setahun yang lalu.

Sambil menunggu masuknya waktu imsak, dengan santai saya menghisap rokok ditemani secangkir kopi hitam. Saya mengenang masa kanak ketika selepas imsak, berduyun-duyun dengan kawan ke masjid. Nyaris kami tak pernah melewatkan salat subuh di masjid komplek perumahan. Masa kecil yang begitu mulia. Saya membatin sambil tersenyum mengingatnya.

Asyik merokok sambil melamun, tiba-tiba saja entah setan dari mana yang dengan mantap langsung merasuk di kepala. Lamunan indah saya langsung diarahkan pada iblis berwujud manusia: Anuar. Kopi cepat saya seruput. Rokok saya isap dalam-dalam, berharap racun nikotin bisa melenyapkan Anuar dari dalam kepala saya. Tuhan… hamba berlindung dari godaan setan yang terkutuk. Ujar saya dalam hati.

Semakin mencoba lepas dari ingatan akan manusia iblis itu, justru mukanya malah semakin ada di mana-mana. Muka telah saya basuh dengan air. Tapi Anuar terus mengikuti. Saya menyerah. Maka, saya memutuskan untuk mengisahkan pengalaman Ramadan bersama manusia terkutuk itu setahun yang lalu.

Seminggu pertama saya secara khusyuk menjalani ibadah puasa di rumah. Saat itu memang kampus meliburkan perkuliahan di minggu pertama Ramadan. Saya pun memutuskan untuk menjalankan puasa bersama keluarga. Baru setelah perkuliahan aktif saya kembali tinggal di kos. Karena banyak penghuni asramanya yang lebih pilih mudik ketimbang kuliah, maka Anuar yang merasa kesepian di asrama, mengungsi di tempat kos saya. Sejak saat itu saya harus menerima takdir: berpuasa dengan setan.

“Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah bagi saya” Ujarnya.

“Asu” batin saya. “Kenapako bisa bilang begitu sede? tumben.” Lanjut saya.

“Inimi waktuku untuk bisa makan gratis” ucapnya. “Selain itu, ada lagi tambahan dana dipakai depo (judi).” sambil cekikian mirip kuntilanak.

“Tapi puasa jako itu kira-kira?” saya memancing.

“Jelaslah. Kan bisa tidur pagi dan bangun sore. Supaya banyak amal toh?” tawanya kian kencang.

Saya ikut tertawa. “Sedangkan 3 hari bisako puasa (Anuar pernah 3 hari tidak makan saat uangnya habis berjudi). Apalagi cuma puasa sehari ji.” sebuah serangan telak saya lancarkan.

“Bajingan”

Apa yang dikatan Anuar, memang terbukti benar. Sejak mengikuti gaya berpuasanya, saya jadi bisa lebih memangkas pengeluaran di sektor konsumsi. Hanya bermodal sarung, kami menjelajah masjid-masjid untuk berbuka puasa. Sahur? jangan ditanya. Anuar telah meriset semua masjid-masjid yang memiliki agenda sahur bersama di bulan puasa. Tak tanggung, Anuar mencetak jadwal sahur bersama di masjid, dan menempelnya di dinding kamar. Sepenuhnya saya sejalan dengan solusi cerdas dari Anuar. Kecuali kebiasaannya membawa tupperware ke masjid. Menurutnya, dia sengaja “bungkus” supaya ada “dipakai” begadang.

“percaya mako toh?” Anuar menyombongkan diri.

“Iyah, kawan.”

“Kau tahu, banyaknya amalta itu karena buka puasa di masjid. Belum lagi kalo sahur. Pasti Tuhan senang karena kita buka dan sahur di rumahnya.” Anuar terus menceramahi saya.

“Hehehe… Iyah, kawan.”

“Makanya, bersyukurko punya teman kayak saya. Banyak amalmu toh?

“Iyo, bangsat.”

Ibadah puasa Anuar berjalan lancar. Selancar judinya. Yah, meski sedang bulan Ramadan, rutinitas berjudi masih tetap jadi prioritas utama Anuar. Menurutnya, puasa hanya sekadar mengisi waktu sambil berharap amal. Selama Dia berpuasa di bulan Ramadan, omset keuntungan judinya ikut meningkat. Tak salah jika dia berkata bulan Ramadan adalah bulan yang berkah untuknya. Sepanjang itu pula, mau tak mau saya harus terus ikut dengannya. Meski awalnya saya sempat kaget, karena sepulang dari buka puasa, Anuar langsung mengarahkan motor ke ATM. Untuk depo tentunya. Begitulah ibadah puasa yang dijalani Anuar. Setelah berbuka hingga menunggu sahur, dia tenggelam di arena judi sabung ayam online. Pria berambut gondrong itu memang seorang maniak sabung ayam. Karena ayam pula, kami memiliki cerita tragis yang akan saya kisahkan di bawah ini.

***

Tak ada keraguan sama sekali untuk mengakui kualitas dan kredibilitas Anuar di bidang sabung ayam. Baik secara online maupun offline, semua pernah dijajalnya. Bahkan sudah selayaknya pemerintah Indonesia, dalam hal ini Dinas Peternakan, untuk mengganjar Anuar dengan penghargaan sebagai Duta Unggas Nasional, sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi waktu, tenaga, dan pikiran di dunia per-ayam-an. Berkat kecintaannya pada ayam itu pula, dia nyaris dikeroyok massa. Ceritanya begini. Saya lupa waktu tepatnya, tapi saat itu saya dan Anuar sedang menyaksikan pertandingan Barcelona melawan Juventus di sebuah warkop. Seusai pertandingan, saya memutuskan mengajak Anuar nginap di rumah. Jarak warkop dari rumah saya memang lebih dekat ketimbang harus balik ke tempat kos. Apalagi, matahari tak lama lagi akan terbit.

Tiba di rumah, saya langsung mengambil tindakan pengamanan. Saya mengamankan tempat tidur sebelum didahului oleh pria yang telah jomblo sejak lahir itu. Anuar sendiri langsung menyeduh teh lalu menyalakan laptop.

“Wee… lupaka beli rokok.”

Edede, pergi mako beli.”

“Tidak kutahuki di mana sini penjual rokok.”

“Kau lihat itu masjid di lorong sebelah? Di sampingnya itu ada penjual. Bukami itu, karena imam masjid itu yang punya warung”

“Temanima saja, nanti dikira saya pencuri karena orang sini tidak pernah liat saya, baru masih pagi sekali ini.”

“Ahh… Mengganggumu, setan!”

Kami pun berjalan sekitar 50 meter dari rumah, untuk membeli rokok. Dari warung, saya melihat warga sekitar rumah baru saja menunaikan salat subuh. Setelah membeli rokok, kami langsung pulang. Saya mempercepat langkah sebab rasa kantuk sudah tak tertahankan lagi. Tanpa mempedulikan Anuar yang berjalan lebih lambat, saya langsung tidur.

Belum lama mata terpejam, selimut telah ditarik oleh paman saya. Saya langsung terjaga dari tidur.

“Bangunko itu”

“Kenapaki, Om?”

“Apa itu kau tidur. Liatko sana di ujung lorong, hampir dipukul temanmu sama orang yang pulang dari masjid. Untung agak saya kenal mukanya.”

“Hah? Kenapa bisa?”

“Masuk di kandang ayamnya orang, baru dilihat sama istrinya yang punya rumah.”

“Asu betul itu manusia satu” ujar saya dalam hati. “Ke sanaka pade lihatki.” Saya langsung menuju ke ujung lorong.

Tiba di TKP, warga telah berkerumun. Ternyata, tak hanya warga yang pulang salat subuh ada di situ. Warga lain yang mendengar kegaduhan pagi itu, ikut terbangun. Maka sekitar hampir 30-an orang, sudah sangat siap untuk menghujani wajah kawan saya itu dengan pukulan. Saya langsung meringsek masuk dalam kerumunan warga. Astagafirullah. Betapa terkejutnya saya menyaksikan pertunjukan yang ada di hadapan saya saat itu. Seorang lelaki berambut gondrong, telah diikat di sebuah tiang listrik beton. Sudah 3 biji kancing kemejanya yang copot. Pipinya sudah kelabu. Sementara rambutnya telah diurai dengan sangat kasar oleh Tata Sule, tetangga saya yang juga mantan preman terminal. Anuar, pemuda asal kota kecil di perbatasan Malaysia dengan Indonesia, nyaris meregang nyawa di sebuah tiang listrik yang berada jauh dari tanah kelahirannya.

Setelah men-steril-kan situasi. Saya kemudian mengajak Anuar untuk pulang ke rumah. Anuar langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sementara saya terus tertawa sambil mengingat cerita naas yang baru saja dirasakan Anuar.

Jadi ceritanya begini. Sepulang dari warung, ternyata Anuar terpukau dengan suara ayam yang berkokok. Hanya beberapa meter dari warung. Saya tentu saja tak menyadari bahwa kawan saya itu tak ada di belakang saat jalan ke rumah. Setelah mendengar suara ayam tadi, Anuar langsung masuk menuju kandang ayam yang ada di samping rumah pemilik ayam tersebut. Rumah si pemilik ayam tadi memang tak memiliki pagar, jadi dengan mudah Anuar bisa menyelinap masuk. Menurut pengakuannya, sudah sejak lama ia ingin memiliki ayam jenis Filipin seperti itu. Rupanya siang nanti, dia akan menemui si pemilik ayam untuk menawar harga. Sambil terus memperhatikan kaki, bulu dan taji ayam itu, Anuar berjongkok di hadapan kandang. Sial baginya, istri si pemilik ayam, melihat ada orang asing di depan kandang ayamnya. Tanpa menimbang-nimbang lagi, ibu tersebut langsung berteriak “Palukka”. Beruntung bagi Anuar, teriakan itu terdengar jelas oleh warga lewat yang baru pulang dari masjid. Beberapa pukulan sempat mendarat mulus di wajah kusut Anuar. Paman saya yang juga pulang dari masjid, sudah siap mengayunkan balok yang diambilnya di samping kandang. Bukan tanpa sebab, beberapa minggu lalu, ayam kesayangan paman saya, raib digondol maling. Maka, halal hukumnya untuk dia tumpahkan kekesalannya pada pemuda berambut gondrong yang ada di hadapannya. Saat sudah bersiap menghantamkan baloknya, paman saya samar-samar mengenal wajah terduga maling itu. Setelah negosiasi, ternyata orang itu adalah teman ponakannya sendiri. Panjang umur, Anuar. Kurru sumange.

***

“Saya kira ateisko kau?” sergah saya pada Anuar

“Memang.”

“Kenapa ikutko puasa pade?

“Saya itu ateis cuma 11 bulan saja. Kalo bulan puasa, ikutja juga puasa. Namanya saja bulan penuh berkah.”

“Oh, jadi percaya juga jako pade sama Tuhan. Makanya jangan mako sok tidak percaya Tuhan.”

“Bukan begitu, kawan.”

“Apaji pade? Jelasmi toh, takut jako juga sama Tuhan.”

“Tidak, kawan. Saya takutnya nanti kalau matika, di akhirat itu ada betulan surga sama neraka. Jadi, biar sedikit tapi kan adami amalku. Pasti bisama masuk di surga, toh?”

“Kontol”

—————————————

Simak kisah lain Anuar di sini dan di sini.

Gilang, Mari Berpolemik!

 Malam telah berganti pagi ketika saya baru saja menyelesaikan tugas Mid Semeter. Karena kantuk belum datang. Maka, saya menunggunya sembari membuka Facebook.

Saat tengah asyik Facebook-an, tautan kawan yang berjudul Menohok, Ini Tulisan Gilang Kazuya Shimura Menanggapi Tulisan Afi Nihaya Faradisa Soal Agama Warisan, mencuri perhatian saya. Selama ini saya memang senang membaca tulisan-tulisan dari Afi. Maka, ketika melihat ada yang mengomentari nukilan Afi, saya jadi tertarik. Tulisan dilawan tulisan. Seru juga. Batin saya.

Namun, betapa kecewa rasanya saat membaca tulisan yang dianggit oleh Gilang yang juga diterbitkan oleh tribunislam.com. Saya sudah tak berselera saat baru membaca paragraf pertama.
Mengapa tulisan seperti itu bisa luput dari editor? Apakah di media tribunislam.com tidak memiliki seorang editor yang mengawasi tiap naskah yang akan terbit?

Iseng. Saya mencari akun penulisnya. Dari nama yang tertera di tulisan, saya menemukan akun Facebook Sang Penulis, Gilang Kazuya Shimura. Hipotesis saya: Gilang adalah seorang intelektual muda. Terlihat dari profilnya. Dia adalah mahasiswa di Technische Universitat Dresden, Jerman. Wow.

Sementara itu, di pihak yang tulisannya coba “digurui” adalah seorang siswi SMA. Yah, dari perspektif saya, jelas bahwa Gilang ingin menggurui Afi yang masih SMA itu perihal agama. Sungguh mulia niatnya. Saat Indonesia kekurangan guru, Gilang muncul untuk menggurui.

Melihat hal itu, saya jadi tak tahan untuk tak angkat bacot. Dengan rendah hati, sebagai sesama mahasiswa, saya mengundang Gilang untuk berpolemik di sini.

Jelas saya tak ingin berdebat soal agama seperti yang dilakukan Gilang pada Afi. Toh sebelumnya, sudah ada Mas Candra Wiguna yang menengahi hal tersebut lewat sebuah tulisan yang cukup bernas. Saya ingin mengajak Gilang untuk lebih ke perspektif akademis: aksara.

Apakah Gilang ini, sebelum kuliah di Jerman, pernah belajar Bahasa Indonesia saat SD, SMP, atau SMA? Kalau iya, mengapa tulisan Anda amburadul seperti itu? Pernah belajar Kaidah Penulisan Ejaan yang Benar? Kalau belum, saya punya sedikit pengetahuan yang akan saya bagi.

Mari kita teliti tulisan Anda di paragraf pertama. Saya hanya ingin bahas paragraf pertama, sebab, di paragraf awal saja Anda sudah banyak kesalahan. Biarlah para sidang pembaca yang lain, menilai paragraf lainnya.

khfdbgkdbg

Paragraf pertama tulisan Gilang

Pada kata pembuka, Anda sudah melakukan kesalahan. Kata ‘Dek’ yang Anda maksudkan adalah adek, bukan kata yang baku. Dan, Anda menuliskan itu berulang-ulang.
Selanjutnya adalah ’emang’. Duh, tahu tidak arti emang? Emang itu artinya paman.
Kemudian ada kata ‘gak’. Yaa Tuhan, orang ini. Gak itu tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mas.
Lalu, ada juga kata ‘milih’. Kamu, Mas. Setelah baca tulisan ini, langsung menuju KBBI daring saja, yah. Periksa sendiri.
Ada juga ‘orang tua’. Tahu tidak, perbedaan orang tua dengan orangtua? Jika yang Anda maksud adalah ayah/ibu, berarti orangtua. Bukan orang tua. Periksa sendiri kalu tidak percaya.
Selain itu, ada juga kata ‘tau’. Tau itu tidak ada di KBBI.
Terakhir ada ‘hadits’. Hadits sudah diserap jadi hadis. Anda menulis ‘hadits nya’. Seharusnya ditulis hadisnya.

Sudah jelas, kan?

Bukan sok menggurui sih. Saya hanya kasihan pada 19.710 akun pengikut Anda di Facebook. Apalagi, Anda nampaknya sering menulis. Maka, mari kita sama-sama cerahkan budaya literasi bangsa ini dengan kaidah penulisan yang benar. Bukankah Anda seorang mahasiswa yang berkuliah di luar negeri. Harusnya Anda yang jadi panutan kami (yang kuliahnya di Indonesia). Atau Anda lebih senang belajar bahasa negara lain tinimbang berpayah-payah belajar bahasa negeri sendiri?

Tak ayal jika saya langsung berpikiran: di mana pun kita kuliah, niat belajar adalah kunci.

Maka, sebelum menggurui orang lain, sebaiknya Anda bercermin terlebih dahulu. Bahwa tulisan Dik Afi jauh lebih baik dari tulisan Anda secara struktur dan kaidah ejaan, itu benar adanya.

Saya sama sekali tak bermaksud menjatuhkan Anda. Tapi, saya hanya mengingatkan untuk memperbaiki tata bahasa Anda. Janganlah terlalu sering mengumbar-umbar kebodohan di depan orang banyak. Begitu kata guru yang mengajarkan saya menulis.

Tulisan ini juga belum tentu lebih baik. Pintu untuk berbagi saya buka selebar-lebarnya. Mari kita saling memperbaiki.

Pesan saya: jika Anda ada rejeki lebih, jangan sungkan untuk membeli Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jika berat, masih ada kok, KBBI dalam jaringan (online).

Salam literasi.

Sang Legenda yang Terpinggirkan

 

syamsul_chaerudin.jpg

Syamsul Haeruddin saat masih berseragam Timnas Indonesia. (Kredit: Goal.com)

 

Dalam kurun waktu 2004—2010, Syamsul Bahri Haeruddin, selalu menjadi alasan untuk anak-anak muda di Makassar, memutuskan untuk berkarir di sepakbola. Legenda hidup PSM Makassar itu, sukses menjadi mood boster pelecut semangat berlatih bagi bocah-bocah SSB di Makassar, untuk bisa menyamai prestasinya.

Syamsul menjadi anomali di barisan tengah Timnas Indonesia yang banyak diisi pemain bertipe stylish, sejak kemunculannya pada Piala Asia 2004 di Cina. Gaya bermainnya yang spartan dan terus berlari sepanjang pertandingan, membuat Ivan Kolev (pelatih Indonesia saat itu) kepincut pada pria kelahiran Kabupaten Gowa tersebut.

Jika kita lebih saksama menyimak pertandingan Indonesia vs Qatar di Piala Asia 2004, Syamsul menjadi sosok kunci yang membuat permainan Qatar sulit berkembang. Hal yang turut pula diakui oleh Philip Throussier (pelatih Qatar) saat mengomentari kekalahan timnya (2-1) yang sekaligus menjadi kemenangan pertama Indonesia sejak ikut serta di Piala Asia. Dengan ciri khasnya yang ngotot dalam berduel, sukses membuat gelandang-gelandang Qatar tak berkutik.

 

bambang-pamungkas

Selebrasi Bambang Pamungkas & Syamsul Haeruddin, saat Indonesia menghadapi Bahrain di Piala Asia 2007. (Kredit: Kaskus)

Tahun 2007 menjadi era keemasan pemain yang kini berusia 34 tahun itu di Timnas Indonesia. Saat itu, bersama dengan Vietnam, Thailand, dan Malaysia, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Asia 2007. Kala hegemoni sepakbola Indonesia sedang meningkat, tokoh kita ini berhasil menampilkan performa apiknya. Bila Anda menyaksikan laga kedua Indonesia kontra Arab Saudi, tentu Anda bisa melihat sendiri bagaimana aksi Syamsul saat mematahkan serangan lawan, kemudian berduel dengan empat orang sekaligus pemain Arab sebelum mengirim umpan yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh Ellie Aiboy.

***

Hingga pekan ke-5 Liga 1, Syamsul belum juga mendapatkan kesempatan bermain di PSM. Berbeda dengan kompatriotnya di Piala Asia 2007 seperti, Ponaryo Astaman, Eka Ramdani, Ismed Sofyan, ataupun Bambang Pamungkas yang masih mendapat menit bermain dari tim masing-masing.

Permainan pemain yang akrab disapa Ancu ini, belumlah bisa dikatakan habis. Saat kedatangannya musim lalu, Robert Rene Albert sempat mengomentari permainan anak asuhnya ini. Menurut Robert, Syamsul pemain yang bagus. Lebih lanjut lagi Robert berharap Syamsul bisa lebih efisien menggunakan tenaganya. Hal tersebut bisa kita lihat pada pemain yang satu tipe dengan Syamsul, Hariono. Pemain jangkar Persib Bandung itu, kini tampil lebih kalem dan efisien dalam bergerak.

Sulit memang rasanya jika kita berharap untuk melihat pemain yang identik dengan rambut gondrong itu, tampil reguler bersama PSM. Meskipun Robert selalu mengutak-atik lini tengahnya, tak sekalipun pemilik nomor punggung 8 di PSM itu diberi kesempatan bermain. Hadirnya duo Belanda, Wiljan Pluim dan Marc Klok di lini tengah PSM, menjadi salah satu faktor dicadangkannya Syamsul. Belum lagi ada nama besar lain seperti Rizky Pellu dan Rasyid Bakri. Kesempatan sebenarnya terbuka bagi Syamsul, saat Rasyid Bakri harus menepi akibat cedera lutut. Sayangnya performa apik dari Asnawi Mangkualam dan M. Arfan, membuat Robert kembali pikir-pikir untuk menurunkannya.

Peran lain Syamsul

Jika kita lebih awas melihat kebijakan dari Robert Rene Albert, ada peran lain yang diberikan sang meneer untuk pemain yang juga akrab dipanggil Daeng Sila ini. Meskipun tak pernah diturunkan, Syamsul selalu diikutkan tiap laga tandang PSM sejauh ini. Kehadiran sang legenda hidup di pinggir lapangan, membuat pemain PSM yang didominasi oleh putra daerah semakin termotivasi dalam bertanding.

Bagaimana pun Syamsul kadung menjadi panutan baik di dalam maupun di luar lapangan oleh para pemain muda PSM Makassar. Bahkan, tak berlebihan jika menyebut Syamsul adalah pemain terpopuler yang lahir dari Tanah Sulawesi-Selatan, selain Ramang.

Tentu saja Syamsul juga berharap mendapat kesempatan bermain musim ini. Namun, jika melihat performa pemain tengah PSM yang mampu membawa tim Juku Eja memimpin klasemen, sulit rasanya untuk dapat melihat aksinya.  Namun, main atau tidak, Syamsul telah menempati ruang tersendiri di hati penggemar PSM. Tak salah jika kelak PSM Makassar menjadi juara di Liga 1, pemain yang paling layak mengangkat piala pertama kali adalah Syamsul Bahri Haeruddin.

 

 


Tulisan ini juga dimuat oleh: football-tribe.com

 

Dependensi PSM pada Pluim

 

pt-lib-sahkan-status-wiljan-pluim-sebagai-marquee-player_m_123307.jpeg

Kredit: jawapos.com

 

Jika PSM diibaratkan sebagai seorang cendikiawan, maka, Wiljan Pluim adalah sebuah buku.

Sepanjang hayatnya, hanya ada dua malam dia tidak membaca buku: malam ketika ayahnya wafat dan malam pernikahannya.

Begitulah Ibnu ‘Arabi berkisah tentang “mentornya”, Ibnu Rushd. Kalimat tersebut termaktub di dalam buku Mencari Belerang Merah yang dianggit oleh Claude de Addas.

Apa yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Arabi, dengan gamblang menggambarkan ketergantungan seorang filsuf besar, Ibnu Rushd, pada sebuah buku—untuk menghasilkan pemikiran-pemikirannya.

Fragmen ketergantungan Ibnu Rushd akan bacaan, juga terlihat pada tim, PSM Makassar. Dependensi—ketergantungan—pada Wiljan Pluim, masih terlihat hingga laga terakhirnya di kandang Mitra Kukar.

Sejak mengawali debutnya bersama PSM, di kandang Persela (02/09/2016), dalam lanjutan TSC 2016, Pluim nyaris tak pernah absen dari daftar starting eleven, PSM Makassar. Secepat kilat, tim Juku Eja langsung berada di papan atas klasemen. Padahal, sebelumnya (putaran pertama) PSM harus megap-megap di zona degradasi. Wiljan Pluim seakan menjadi Zeus (raja para dewa dalam mitologi Yunani) yang mengubah Ayam Jantan Dari Timur, menjadi tim yang menakutkan.

Kemampuan mengolah bola, umpan yang mematikan, serta visi bermain yang cerdas, sukses membuat pemain yang mengawali karir di Vitesse Arnhem tersebut, menjadi roh permainan PSM. Alur dan tempo permainan Juku Eja, sangat bergantung di kaki pemain asal Zwoole, Belanda, ini.

Wiljan Pluim termasuk pemain yang unik. Jika biasanya pemain jangkung terkesan kaku, tidak demikian dengan pria bertinggi 190 cm ini. Dia mampu mempertontonkan skill-nya saat mengecoh dua hingga tiga orang pemain lawan. Bahkan oleh komentator di TV, ia dijuluki ballerina yang menari di tengah lapangan. Tak heran jika di pertandingan PSM melawan Mitra Kukar, pemain sekaliber Mohammed Sissoko, harus pontang-panting merebut bola dari Wiljan Pluim.

***

Memasuki musim kedua di PSM, peran pria kelahiran, 4 Januari 1989 ini, masih terlihat vital. Gerbong pemain bintang yang masuk ke PSM, tak menggoyahkan status Wiljan Pluim sebagai nyawa permainan. Disokong oleh segudang gelandang pekerja, mulai dari, Rasyid Bakri, Rizki Pellu, Syamsul Haeruddin, M. Arfan, Asnawi Mangkualam hingga Marc Klok, membuat Pluim semakin nyaman memainkan perannya sebagai pengatur irama permainan.

Tanpa mengecilkan gelandang lain di Indonesia, tak berlebihan jika kita menyebutkan bahwa: Wiljan Pluim, adalah gelandang dambaan tiap penyerang di Indonesia. Maka, siapapun penyerangnya, tak sulit untuk mencetak gol jika dimanjakan oleh umpan-umpan Wiljan Pluim.

Lalu, bagaimana jika Wiljan Pluim harus absen?

Melihat tingginya intensitas pertadingan di Liga 1. Sudah sewajarnya jika coach Robert Rene Albert, mulai memikirkan solusi saat Pluim harus absen. Kemampuan individu Pluim, yang di atas rata-rata, membuat pemain lawan tak jarang harus bermain keras untuk menghentikannya. Selain itu, faktor kelelahan saat terus-menerus dimainkan, membuat pemain yang telah membukukan satu gol ini, rentan terkena cedera. Beruntung, kondisi Wiljan Pluim hingga saat ini, masih prima.

Ketergantungan PSM pada Pluim, juga mengingatkan kita pada sosok Sang Proklamator, Ir. Soekarno, saat ditahan di penjara Banceuy, Bandung. Begitu bergantungnya Bung Karno pada buku, membuat istrinya kala itu, Inggit Garnasih, harus menyuplai buku secara ilegal, dengan jalan disembunyikan di dalam stagennya, saat mengunjungi sang suami di penjara. Bukan tanpa sebab, pihak pemerintah Hindia-Belanda, sadar betul jika, Soekarno dan buku adalah sebuah ancaman bagi mereka. Terbukti, buku-buku hasil selundupan Inggit, mampu membuat Bung Karno, menelurkan sebuah pledoi yang amat menggemparkan kala itu, Indonesia Menggugat. Sebuah pledoi yang tak hanya menampar pihak pemerintah Hindia-Belanda, namun juga, membuat Bung Karno semakin lama di penjara.

PSM harus belajar pada kisah Arsenal. Bagaimana tim asal London tersebut, sangat bergantung pada sosok Alexis Sanchez. Hal yang membuat sang profesor, Arsene Wenger, mati-kutu saat Sanchez harus menepi karena cedera. Tak ayal jika sedini mungkin, jajaran kepelatihan PSM, menyiapkan waktu istirahat yang tepat, agar Wiljan Pluim terus bugar dan tampil konsisten.

Seperti yang dikatakan oleh, Karl Marx: Bahaya dari ketergantungan akan membuat terhambatnya perkembangan.

 


Tulisan ini juga dimuat oleh: football-tribe.com

Sabar, Tegar

loner-broken-house.jpg

Kredit: lifeofloner.com

 Seperti pada ceramah-ceramah sebelumnya, saya selalu terkesima melihat Cak Nun menyampaikan dakwahnya. Kali ini, ulama asal Jombang itu coba meluruskan sejarah tentang Pangeran Diponegoro. Saya menyimak dengan saksama.

Belum sampai 5 menit berjalan, kamar saya digedor. Tegar datang membawa bungkusan. Tanpa dipersilakan, kawan saya ini langsung mengkudeta kedudukan saya di depan laptop. Binatang betul manusia satu ini. Saya membatin.

Setelah menyulut rokok Surya-nya, Tegar langsung membuka bungkusan. Sepasang Bir Bintang dan Anggur terpampang menantang. Tanpa basa-basi, sekejap saya sudah menyodorkan mok untuk diisi.

Jadilah kami berdua minum sambil menyaksikan ceramah.

Ceramah Cak Nun berakhir dengan dibarengi tandasnya minuman di dalam mok. Ada rasa ingin tambah, tapi saya tahu diri. Kebetulan, di malam yang berbahagia itu, saya sedang tak memegang uang. Harapan ada pada Tegar. Setengah dari kepala saya sudah bereaksi, emosi sedang labil. Saya menatap tajam ke arah Tegar, dengan harapan dia bisa mengerti.

“Ayo beli lagi deh.” Akhirnya kalimat yang saya harapkan terucap juga.

“Sudahmi kawan, Kencangma ini.” saya mencoba untuk pencitraan.

“Aih, anak muda palsu. Baru begitu mabokmi.”

“Bukan begitu kawan, lagi kering ini malam kodong.”

“Tenang boscu, menangka poker tadi.”

“Ayomi pade, sodara.”

“Setang kau!”

Jalan sudah lengang saat kami menuju ke Angko Roni, pemilik kios. Beragam jenis minuman keras dijual oleh pria Tionghoa ini. Anehnya, warung tempatnya berjualan, tepat di depan markas tentara.

Motor Vespa PX milik Tegar, saya tancap sepulang dari kios Angko Roni. Rasanya saya sudah tak sabar untuk menandaskan 2 botol Bir dan 1 botol Anggur yang kami beli.

Laju motor saya pacu dengan kecepatan maksimal. Dalam keadaan setengah mabuk, rasa takut seperti sirna. Hembusan angin begitu menyegarkan kepala yang kadung berat efek dari alkohol.

“Berhentiko!” pijakan rem nyaris jebol saat dengan maksimal saya menginjaknya. Saya jelas terkejut. Motor saya tepikan.

“Kenapako? Bikin kaget sekali.” saya menggerutu.

“Tungguka sini.”

Tegar berjalan ke arah belakang. Dari atas besi tua miliknya, saya mengamati. Langkahnya dipercepat.

Sekitar 20 meter berjalan, dia menghampiri sepasang pemulung yang sedang mendorong gerobak berisi kardus dan plastik bekas. Mereka pun terlibat perbincangan enam mata.

Dari jauh, samar-samar saya melihat ada kepala yang muncul dari dalam gerobak. Rupanya anak kecil. Sepertinya dia anak dari sepasang pemulung tadi. Obrolan mereka berakhir saat Tegar merogoh dompet kemudian memberi beberapa lembar uang.

Tuas gas motor kembali saya tancap saat Tegar kembali duduk di belakang saya.

***

Selesai meramu minuman. Saya menuangkan untuk Tegar. Tentu saya tak ingin dianggap tak tahu diri jika mendahului Tegar mengangkat gelas.

“Minum mako duluan.” Tegar memberi saya kehormatan untuk mencicip tuangan pertama. Setengah gelas yang terisi, ludes di kerongkonganku.

“Maumi lagi puasa di’?

“Iyah”

“Puasa jako itu kau nanti?”

“Tidak taumi

“Kenapa lemas begituko?”

“Tidakji kawan”

Sembari memutar lagu-lagu Ambon, saya kembali menuangkan minuman untuknya. Dia mengangkat tangan pertanda menolak.

Sudah setengah dari mok berpindah ke dalam perutku. Sementara Tegar, tak kunjung minum. Sejak pulang dari kios Angko Roni, dia memang seperti kurang semangat. Hanya rokok yang tanpa henti diisapnya.

“Kenapako sodara?”

“Tidakji

“Bicara mako kalo ada masalahmu”

Saya berpikir bahwa kawan saya ini memang sedang ada masalah yang serius. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.

Sembari mengecilkan suara Mita Talaihatu yang sedari tadi mengalun di laptop, saya memulai mengajaknya bicara.

Tegar Suharto adalah seorang aktivis kemanusiaan. Dia tak pernah segan untuk turun bertarung saat melihat adanya pelanggaran kemanusiaan. Apa yang dia lakukan pada sepasang pemulung tadi, hanyalah bagian kecil dari kemuliaan hatinya selama ini. Sudah jadi rutinitas, tiap dia punya uang lebih, untuk diberikan pada orang yang sedang kesusahan.

Saat pertama kali mengenalnya, saya beranggapan jika bapaknya adalah seorang pengagum Suharto. Hal yang kemudian terbantahkan sebab Suharto adalah nama bapaknya yang berarti kakeknya mengagumi mantan presiden kedua Indonesia itu.

Setelah lama mendengar ceritanya, saya jadi paham bahwa Tegar sedang merindukan kedua orangtuanya. Memang, sejak kecil, Tegar bersama dua adiknya, ditinggal oleh kedua orangtuanya yang bercerai. Dia dan adiknya pun turut berpisah karena mereka bertiga diasuh oleh orang-orang yang berbeda. Melihat kemesraan sepasang pemulung yang mengikutsertakan anaknya untuk mencari nafkah, membuat Tegar begitu iri hati. Dalam kesulitan, keluarga pemulung tadi terlihat bahagia. Hal yang amat dirindukan oleh Tegar.

Saya meneguk minuman sebanyak 2 gelas. Sambil berharap alkohol yang turun ke perut, bisa merangsang ke otak agat saya bisa lebih santai. Memang, saat itu jiwa saya turut gentar mendengar cerita kawan saya ini.

“Bahagianya itu pemulung di’?”

“Ah, iya. Iyah bahagia saya lihat.”

“Kira-kira mereka berdua itu pernah janjian tidak, kalo nanti akan hidup seperti itu dan bisa bahagia?”

Pertanyaan Tegar seperti smash telak bagi saya. Tak ada jawaban yang bisa saya berikan. Saya merasa beban Tegar berpindah pada saya.

Setelah berpikir keras, saya memberikan solusi. Tapi, ada rasa pesimis jika solusi yang saya berikan ditolak oleh Tegar. Meski begitu, apa salahnya jika saya mencoba. Saya pun membeberkan ide tersebut. “Sebaiknya kau salat dan banyak berdoa, Gar.” ujar saya sambil terus ditatap sinis oleh Tegar. Sepenuhnya saya sadar, jika kawan saya ini sudah sejak lama mendeklarasikan diri sebagai penganut paham ateis.

Udara dingin perlahan mulai menusuk. AC di kamar kost saya memang baru saja diremajakan. Sepertinya efek alkohol sudah hilang. Tegar nampak memainkan korek yang ada di tangannya.

Keheningan di kamar, pecah oleh suara azan dari masjid yang hanya sepelemparan batu dari kamar saya. Tegar berdiri. Saya tegang. Dia berjalan menuju kamar mandi. Allahuakbar.

Kegirangan tak bisa lagi saya bendung. Dalam keadaan mabuk, saya bisa mengembalikan kawan saya ke jalan yang benar. Segala masalah datangnya dari Tuhan, dan padanya kita kembali. Batin saya.

“Ada sarungmu?”

Allahuakbar. Teriak saya sekencang-kencangnya dalam hati. Rupanya tak sia-sia saya rutin mengikuti pengajian Cak Nun lewat Youtube. Saya berhasil kembali mengislamkan kawan saya.

“Adaji sodara, bukami saja lemari, paling di ataski itu sarung yang bersih.”

“Bisako bersih-bersihkan dulu situ?”

Secepat kilat saya memindahkan botol-botol minuman ke tempat sampah. Tak butuh waktu lama, kamar sudah bersih. Meski tak salat, saya tak ingin absen untuk beramal. Bukankah dengan membersihkan tempat yang hendak dipakai salat, juga merupakan suatu amal, kan?

“Salat di sini mako sodara” sambil saya bergegas naik ke tempat tidur, agar tak mengganggu kekhusyukan salatnya.

“Siapa mau salat?” ujarnya sambil menggelar sarung di atas lantai kemudian berbaring.

“Bisako pulang sekarang, telaso?”

____________________________________________________________
Catatan Mahasiswa lainnya:

Hikayat Perkelaminan

Bulan yang Berkah untuk Anuar